Di malam itu, Ketika Ba'da Aidil Adha, Pemanggangan Sate Sate...
Diantara Urusanku dengan Bang Zikri, Ada Satu Momen yang Mencolok.
~~~
Kami berdua, aku dengan Zikri masih dibawah langit, merajut mimpi mimpi, dan Mencoba mewujudkan itu Menjadi Kenyataan, Hanya Beralaskan Karung.
Kulihat arah Asramaku. Semua orang Telah Berbahagia Memakan sate. Aku yang sedari tadi masih bersantai santai, Melihat seseorang dari kejauhan spontan bangun dan izin ke Zikri untuk pergi mengisi kembali perutku. Kemudian mulai menjauh.
Panggangan asramaku masih penuh dengan sate orang orang. Jika aku ke Sa'ad bin Abi Waqash, pasti aku akan dihina. Untuk itu, aku Membalik arah ke Asrama Khalid bin Walid, Asrama kelas 8.
Kudekati Pemanggang itu. Tanpa dilihat Senior, kuletakkan 3 Batang sate itu, namun gagal karena Panasnya Bara api seperti menghujam kulitku. Bukan karena serakah, tetapi jatah setiap orang memang 3 tusuk. Ketika aku hendak mencoba untuk keduakalinya, ada Seseorang yang menghentikan gerak tanganku, Ia tak lain dan tak bukan Ketua kelas 8, Muhammad Raivan. Ya. Kakak kandung laki laki Syifa, Seseorang yang pernah kumainkan.
Awalnya kupikir ia Menghentikanku dikarenakan Tak diizinkan membakar disitu. Tapi, Sepersekian detik selanjutnya ia melanjutkan, "Sini, biar abang bantu".
Kuberikan saja. Ia membakar dengan keseriusan yang sama seperti miliknya. Melihatnya jongkok.., menatap sateku dan sesekali membalikkannnya...
Rasanya bagai Dadaku tertusuk pisau dapur. Pilu. Menyesal.
Apa yang terjadi jika ia tahu apa yang kulakukan padanya?
Aku tak Bisa membayangkan ia kecewa padaku, padahal sebelumnya ia pernah memperlakukanku seperti ini.
Jikapun ia telah tahu, Betapa kesabarannya itu perlu dibayar mahal.
Sakit. Sakit sekali.
Menyesal. Menyesal sekali.
Rupanya,, kata kata Mutiara yang pernah kutemui di Instagram terbukti adanya.
Satu persatu Penyesalan akan datang menghampiri, Menyadarkan apa arti dari Karma.
Mayzahrah,, Syifa,...
I'm so Sorry.
Aku tak seharusnya dan tak sepantasnya memainkan hati kalian.
Sorry.
~~~
Ia serahkan sate itu padaku, yang menjadi satu satunya sate di tempat itu.
Aku memutuskan untuk memulai dari yang kecil, dengan mengatakan, "Ehmm... Buat Abang ajalah satu"
"Yang mana?"
Aku mencari yang paling besar. Bukan untuk diselamatkan, melainkan untuk diberikan.
"Nih,, yang paling besar"
"Makasih"
"Sama sama"
Aku meneruskan malam dengan menyambung merajut asa bersama Zikri, sambil menatap langit cerah. Tak peduli esok UH Sains.