Ya. Orang Setelah Naufal adalah Abda.
Persahabatan Kami dimulai pada Kelas 4. Aku Ingat Betul pada Saat kami Menjiplak Peta dengan Kertas ¿Minyak?. Saat itu Karya Kami Berdua Sama Sama ditempel. Eh, salah. Waktu itu gua ga bisa sama sekali Bidang Seni. Jadi ituh Jiplakan dibuat Ibu gua.
T: "Eh, Punya kita dekat!"
A: "Iyalaah,, Kita kan Sahabaat"
T: "Iya"
Kami Seringkali Mengatakan " Sahabat " di kelas 4
Aku Menyebut dia "Pantas" menjadi Sahabatku Karena Sifatnya. Dia lucu dan Humoris. Dia Bisa Menyemangatiku disaat apapun.
Aku masih ingat Saat Tutup tema ke Adityawarman, Saat itu keadaannya sangat Memprihatinkan. Dia Mempunyai Mobil, tapi Dia Pemabuk. Berbahaya. Disaat itu aku yang Mengurusnya. Saat dia muntah, Aku yang Buangin, aku yang ambilin minyak, dll.
Hingga,,
Rafi Mengubah Segalanya. Entah Kenapa, Apa Salahku, APAAA!? Kenapa Kau Merebut Sahabatku? Cih, Cara Banci Seperti Itu yang Kau Lakukan!
Asal Kau Tahu saja ya, Rafi Banyak Merebut Teman Dekatku. Entah Mengapa. Setiap Aku Dekat dengan Seseorang, Dia Ambil. Aku Sangat heran pada Kelas 5 dia Tiba tiba Merebut Ariq dan Abda sekaligus. Dan Aku Lebih Heran lagi, Karena satu satunya yang dia Tak Bisa Rebut Ialah Naufal. Aku sering Melihat Naufal didekati Rafi. Tapi Naufal Malah Menjauhinya. Cara Anj*ng seperti itu Tak perlu kupedulikan.
Abda Berubah di Kelas 5. Dia Lebih Agresif. Mengapa?
Dia Mengejar Safna.
Dulu Aku Heran Mengapa Safna Sangat FAVORIT para Aulad, Banyak banget yang suka. Aku Penasaran Banget rasanya dulu... gimana Rasanya disukai (Kesampean juga Akhirnya).
Abda yang Tadinya Humoris dan Lucu saat itu telah Menjadi Abda yang Kasar. Kurasa yang Mengajarinya adalah Rafi.
Awal Kelas 6 Aku menemukan Sosok yang mirip sekali Kelakuannya dengan Abda. Dia Muhammad Farel Hibatullah. Kelas 4, Lokal ustzh Putri dan Ust. Talkisman. Aku dekat sekali dengannya. Kali ini aku yang Mendekat, Karena ternyata Aku sangat Butuh Sosok seperti itu.
Aku Kembali dekat Dengannya lagi Pada Akhir Kelas 6. Aku dekat dengannya Karena Safna. (Thanks Safna, Kau yang Merubah Abda, Kau juga yang Mengubah Abda Kembali)
Saat itu Hatiku sedikit panas karena Abda bicara sangat Akrab dengan Salma.
Awalnya aku biasa saja, Tapi Setelah Provokasi dari Arkan akupun Emosi. Arkan Mengancam Abda terus terusan.
Entah Apa Hak ku untuk Cemburu, tapi Kecemburuan ini Mencapai Batasnya. Aku dan Arkan Merencanakan Balas Dendam, dengan Berbicara seakrab Akrabnya dengan Safna. Arkan Sampai Rela Berkorban Tempat duduk dan Perasaannya, Hanya untuk Aku Balas dendam.
Kalimat yang Sering Dilontarkannya saat itu adalah,: "Udah Sebaik apa ana tu, Berkorban Demi Antum. Balas lah Lagi. Tau? Sakit juga Hati ana ni nengok Antum sama Safna!"
Aku menggunakan Kesempatan itu Sebaik baiknya, Kadang Abda ngelirik Buruk kepadaku. Dan Terkadang di Adegan Besar, Aku memanggil Abda untuk Melihatku.
Abda Lemas. Nampaknya dia Sangat Cemburu. Dua Hari saja Sudah Cukup untuk mengatakan:
"Malas ana Bicara sama Salma lagi Thor, Dia Pengambek"
Wkwkwk. Dia Kira Aku Bisa Dibodohi apa? Ibuku Juga Pernah Menjadi Psikolog tau'! Aku tau yang Boong sama engga.
Dia cuma Termakan rasa Cemburu.
Saat itu Kami Baikan. Kami menjadi Sangat dekat. Aku Biasanya Mencie ciein Abda dengan Safna kalo berpas pasan. Dan.. (maaf ya) Aku seringkali Membuat Hidung Abda Kembang dengan Meyakinkan dia Bahwa Safna Menyukainya. Sampai Sekarang dia Masih Ke Ge Eran, Merasa bahwa Safna menyukainya.
Sampai Sekarang, Kami Dekat Sekali. Thanks Safna.
-----
Oiya, Ada satu Ceritaku dengan Ariq yang Mirip dengan Episode ini.
Entah aku sudah Menceritakannya atau belum, Kalau Belum silahkan Chat saya dan bilang belum, dan saya akan menerbitkannya. Dan jika belum saya akan menghapus bagian bawah ini.
Ini Terjadi setelah Aku Mengalami Putus Asa terbesar yang Pernah Kualami. Disaat Ariq dengan Salma sangat Dekat.
Sudah Kuceritakan, Ariq Suka sekali Mencie ciekan Aku dengan Salma.
Kalimat yang Mencengangkanku saat Pertama Kali Keluar dari Mulutnya, Karena dia mengatakan ini Sudah sering kali.
"Kalau yang Ana suka Dekat sama antum Ana ga Akan Cemburu. Ntah Kenapa rasanya. Tapi ana ga Cemburu. Dan Ana berjanji jauhin Salma." (Dia Agak Dekat dengan Salma Sekarang karena Aku yang Suruh.)
BOOM!
Aku Kaget.
Hebat Sekali, ya.
Bahkan, dia biasanya Mengatakan itu Sambil Menepuk Pundakku. Rasanya Aku Terharu.
Karena itu Aku Agak Susah juga Godain Ariq dengan Menggoda Mia.
------
Aku terlambat Post gara gara di Jawa Barat bagian Kampungku Sinyalnya Anjir, jadi aku Harus berpetualang dulu untuk Mencari Sinyal.
Filosofi Ratih: Abda,
END.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar