Minggu, 10 Juni 2018

Filosofi Ratih: Naufal.

Sad.

Aku Sangat Sedih Berpisah Dengannya. Bagiku, Dia Adalah Orang yang Paling Kusayangi diantara Orang yang berpisah.

Ukhuwah ini Dijalin dari Tahun Kepindahannya, 2013. Saat itu Kelas 2.

Seperti yang Dilakukan Semua Orang, Aku juga Mendekati Naufal. Dan... dia Nempelnya ke Gua.

Beragam Keusilan kulancarkan Kepadanya, Banyaakk sekali. Setiap hari, bukan. Setiap Ketemu atau Berpas pasan, Ada Sedikit (kadang banyak) Keusilan terjadi. Namun, Dia tak Minggat minggat dariku. Malahan Kami Tambah Dekat.

Kedekatanku Dengan Naufal Melebihi dengan Ariq, tapi Tak bisa Kupungkiri bahwa Aku lebih Sayang Ariq. Bukan Maho yaa...

Hampir Setiap Malam ia Menghampiriku. Dia Datang Ke Tokoku, Pernah juga ke Rumahku. Aku juga tak jarang ke Rumahnya pada Kelas 4. Tak Seperti Sekarang, Aku Hampir Tak Pernah Ke Rumahnya. Mulai dari PR, Main Main Aja, Sampai Numpang Nama Beli Martabak Mesir/Nasi Goreng, karena Aku kan tetangga mereka, jadi Harga untukku Murah. Beda dengan Teman Teman yang Lain, Seperti Rasyid, Gibran, dll., Dia Sama Seperti Ariq, Namun Dalam hal ini Naufal Lebih Jauh tinggi.

Tidak Memanfaatkan Orang.

Bukannya aku Sebodoh apa dimanfaatkan, Tapi aku hanya Sebatas Kesepian. Mereka Memanfaatkanku untuk Bermain Game. Sedangkan Naufal, Seumur hidup Aku baru Bermain Game dengannya 2 kali itupun Aku yang Mengajak. Dia Hanya Ingin Bertemu, Berbicara atau Sekedar Bermain Bola mini. Kalau Ariq... Jika Ada Gamenya Maka Main Puas Puas. Jika tidak, Kami Jajan, Makan dan Bermain Bola Mini. 
Rasyid? Jangan Ditanya. Jika Tak Ada Game dia Pergi, sambil Ngata ngatain gua.

Kami juga Seringkali Melakukan Travelling, ada yang naik sepeda dan ada juga motor. Aku biasanya Travelling dengannya disaat Maraton Pagi dan Sore.

Darinya lah Aku Bisa Memakai Sepatu Roda. Dia yang Mengajariku caranya. Di Kelas 5, Tiap Minggu pagi Aku Diajak Ke Kantor Bupati untuk Bersepatu roda. Sekarang, Aku Telah Lebih Ahli daripadanya.

Aku Ingat Betul Sampai kini, Makanan Favoritnya ditempatku Ialah Tempe Mendoan. Jadi, Tiap Ada tuh Menu di Atas Kulkas, Mungkin Para Kedelai Digoreng itu Tewas.

Kini Tentang ♥. Aku Sering Menyemangatinya. Semenjak TK (Katanya) Ia Suka Ke Safna. Aku Tau Betul Keluarga Mereka Dekat. Aku Percaya, Pada Suatu Saat Nanti Safna Akan Menyesal telah Membiarkan Semua Fansnya tanpa Dihargai.

Ketika Tutup Tema, Khususnya Dimobil, Jika Kami Berdekatan, Aku yang Menjaganya.

Aku Pernah Diajak Berenang ke Lubuk Landur dengannya, Orangtuanya dan Mifdhal (Sepupunya). Kenangan itu Masih Terlekat Di Kepalaku.

Oh iya. Kami Pernah Secara Kebetulan Berpas-pasan di Kelok 9.


Dengannya Aku Mengerti Pertemanan.
Dengannya aku mengerti Persahabatan.
Dengannya Aku Mengerti Kebersamaan.
Dengannya Aku Merasa Nyaman.
Dengannya Aku Merasa Besar.

Dengannya Aku Mengerti Ukhuwah.

Berpisah Dengannya terasa Begitu berat.

Terimakasih, The Biggest Best My Friend.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar