Ini adalah Peluangku untuk Membuat Masa Depanku lebih Siap. Cita Citaku adalah menjadi Pemimpin suatu Perusahaan Besar. (Aamiiin) itu Cocok dengan peranku di Perpisahan ini. Pidato.
Asal kau tau, Impianku Semenjak Kelas 2 adalah MENYANYI saat Perpisahan. Dulu memang suaraku Sumbang, tapi Kini Telah Kulatih Sedemikian Rupa. Saat itu aku sangat teringin Menyanyikan Lagu Jepang. Ya. Saat itu aku sangat suka yang Berbau Jepang. (LU KATAIN GUA WIBU, AWAS LU) Saat kelas 2 Aku sangat Teringin Menyanyikan Lagu You Are My Friend. 3 Without A Fight. 4 Limpid Luster. Kelima Barulah Himawari no Yakusoku.
Kini aku Lebih tertarik Kepada Inggris. Kota Pencipta Sepak Bola Sangat Kugemari Saat ini.
Aku Sangat Kecewa dengan Keputusan Ustadz dan Ustadzah Menunjuk Ariq. SANGAT. Tapi aku tak boleh Menyalahkan yang lain karena Akupun tak Pernah Menunjukkan Suara Emasku ( UHUK OHOK). Tak lagi bisa diungkapkan dengan kata kata.
Meski Mual, Kuhafal Seluruh isi Pidato itu. Beban yang Kuemban saat ini Bisa Kubanggakan dilain Hari. Tak tahan Lama, aku hanya kuat sekitar Belasan Menit. Itu sudah bisa kubanggakan lho. Standar Belajarku Ialah 2 Menit.
Esoknya...
Kusiapkan Peci Hitam, HandPhone serta PowerBank. Peci hitam ini Kubeli saat ingin Pawai Kemerdekaan. (iyakah?) Kuabaikan Ibuku yang Sedari tadi Mengurus Bedak. FUCKER, I NOT GIRLS MOM.
Pergi ke SDN 09.
Tiba disana, Di Gerbang, Kudengar Disampingku Ada Bisik Bisikan. Pendengaranku Cukup Tajam untuk mendengar Percakapan Mereka.
Bukannya Kepedean ya.
"Aku yang ini ha, Ganteng"
"Punyaku!"
Kurasa yang Lain Dibegitukan juga.
Aku pergi meninggalkan Wanita wanita Sakit itu. Cukup Kucuekin aja.
Kulihat Seluruh Teman Temanku Memakai Baju Yang Sama Denganku. Setelan Batik Kemerah merahan, Cukup Membuatku kagum Didepan Cermin Kamar dengan Kegagahanku. Banad tak terlalu Kusoroti, Karena Kulihat Jilbabnya Merusak. Bukan Ga Bagus yaa. tapi AGAK kurang pas dengan Merahnya Baju Kami.
Arkan Datang Menghampiri,,
A: Ada juga Teman ana nyo. (Sambil Memegang Bajuku)
T: Maksudnya?
Nf: Nih Haa. Baju Kita Kayak Banad, Yang Kosongnya Ditengah Depan. Kalau Mereka dibawah.
T: Ooh. Kata ana Baju Kita Lebih Bagus kok.
Aku Mengomentari Beberapa Orang yang Kancing Paling Atasnya Terbuka, Kubilang Mereka Seperti Official Hotel. Iya Kan? yang Bawain Barang Barang Orang tuu.
Tapii ada Yazid, yang Kerahnya Terbuka Lebar. Kukomentari dia Seperti Bos-Bos Cabul. Sekali kali jadi Komentator Gapapa dong.
Memang,, Dunia ini Dipenuhi Dengan Komentator Kelas Bawah.
TUUUUUUUUUUUUT
Bel Berbunyi. Kami masuk ke Kelas Masing Masing.
Kami Sibuk Dengan Kertas Masing Masing. Kali Ini PJOK.
Aku tak Kesusahan Mengerjakan Soal Soal ini, Karena Sehari Hari Aku Mempraktekkannya. Pull,Push,Sit Up, Renang, SepakBola.
Aku Hanya Kesusahan di Soal yang Menanyakan Ukuran.
Seperti Biasanya, Kami Ribut setelah Menyelesaikan Ujian. Tinggal Menunggu Bel Pulang Berbunyi.
TUUUUUUUUUUUT
Satu Persatu Kami Keluar. Aku yang Bernomor Ujian 17-269-033-8 ini Pulang Kedua Terakhir, Sebelum Yazid dan Setelah Salma. Surat Balasan dari Apa yang Diberikan Safna Kemarin Sudah Ready Dikantungku. Tetapi... Tololnya aku yang Grogi ini dan Pergi Ke Arah Aulad. Sampai Sekarang, Surat itu tak tersampaikan.
Aku Menaiki Mobilku yang Telah Diparkir di Depan Masjid Agung, dengan Fauzi dan Bani. Kami lewat Melalui Jalan Soekarno-Hatta, Sedangkan yang lain lewat Cindua Mato.
Setibanya disana, Kelas 6 Dibuat Kesal dengar Mekanisme Acara ini. Mengapa Kami datang Saat Acara acara telah Berjalan Jauh?
Aku saja datang saat Orang selesai Pantomim. Otomatis Aku Tampil Hanya Setelah Kelas 1,5, Tari Pasambahan, Ariq dan Sofi.
Kelas 1= Fashion Show Berdasarkan Cita-Cita,
Kelas 2= Nyanyi apalah itu... Yang Semua Manusia Pasti Punya... Ahsudahlah.
Kelas 3= Nyanyi Laskar Pelangi
Kelas 4= Pantomim
Kelas 5= Musik Nusantara dan Silek Kampuang,
Ariq= Nyanyi Kun Anta
Sofi= Pesan dan Kesan dari Adik Kelas
Sedangkan Aku Pesan dan Kesan.
Saat Aku Baru Datang, Aku Sempat Kode kode (kode mulut) dengan Safna. aku tak tahu Ibuku berada di Belakang Mereka, Jarak 2 kursi.
Hanya Menunggu Giliranku.
Diantara teman temanku, akulah yang paling sibuk kedua setelah Ariq. Kalau Ariq mah Latihan Dibelakang. Kalau Aku Sibuk Menghubungi Ustadz Adi, Bertanya, Mencari Ustadz Satria.
Aku Naik Keatas Panggung Saat Sofi Sedang Tampil. Namun Dibalik Tirai Biru. Saat Keluar Aku Sempat Kesusahan Membuka Pintu. Untung Ada Ustadz Eko.
Diatas...
(masih dibelakang tirai)
Aku Berfikir...
Pasti aku akan Merindukan Masa ini Suatu Saat Nanti. AYO THARIQ, MAKSIMAL!
Sofi Telah Selesai.
Selanjutnya Dijelaskan dengan Video Berikut.
Video Tersebut tak Sampai Akhir. Aku Tak ingin juga Menjelaskannya, Karena Nanti Terbelit belit.
Ada 3 Pantun sebagai Penutup.
Setelah Aku Turun, Ada Momen SANGAT MENGEJUTKAN.
Aku Ingin Duduk di Tempat dudukku, tapi Telah Diisi Ustadz Bambang. Ada Seseorang Dibelakang Memanggilku Sambil Memindahkan Box Snack. "Nih" Sambil Menepuk kursi itu. "Disini Aja."
Saat Kulihat Siapa itu.... WTF!
AYAH MEREKA!
Dia Gustrizal Rasyid, (maaf ya) Ayah Dari Si Kembar.
Saat Aku Duduk, Dia Menyodorkan Tangan, Tanda Meminta Disalami. Kusalami lah. Setelah Bersalaman, Hampir Seluruh Aulad kelas 6 Melihatku. Entah Dengan Tatapan apa, tapi nampaknya Beberapa diantara mereka Dengan Tatapan Buruk Bercampur iri. Sebagian Mereka mengucapkan dengan kecil kata ',Ehem,'. Arkan yang Melihat Kejadian Itu Tak Tinggal diam. Dia Langsung Duduk Disampingku. Aku Mengeluarkan HP dari Tas.
Saat Kubuka Facebook, Melihat Result Pertandingan Home United VS Persija Jakarta, Ayah si itu Menatapku dalam dalam. YAA JELAS GUA GROGI LAH. Aku Mengajak Arkan Berfoto. Tapi BackGroundnya Ayah mereka.
Kami Menyaksikan dengan baik. Hingga Penampilan Kelas 6.
Kami Berbaris yang Lebih mirip antri.
Sampai Giliranku:
(Lupa... :v)
THARIQ ALMAS NEIL AUTHAR, NILAI Try Out Tertinggi.
Piala Kuambil, Aku Lupa Bersalaman. Yaa aku balik lagi selangkah, dan Terus keatas untuk meletakkan Pialanya.
Kategori kategori disini tak masuk Akal. Sebenarnya Semuanya Aku. Cuma Pra USBN tertinggi, MTK, SBK, Olahraga aja yang ga. Tapi Aku Harus Ikhlas Berbagi.
Mulai Menyanyi,,
Aku Tak Bisa Menangis. Bahkan Puisi Rahmad yang waktu latihan sempat membuatku menangis tak mempan. Entah Kenapa. Setelah Bernyanyi, Kami Menyalami seluruh Usradz ustadzah, dewan guru, staff dan Karyawan Cahaya Makkah.
Aku tak menangis juga disitu.
Sampai..
Aku Kembali Keatas. Kusalami dan Kupeluk Ustadz Adi. Saat Pelukan, Terlihat Semua Gambar Gambar Dulu. Tak Mudah Membangun Sekolah Ini Dari Nol. Kulihat Kami yang Dulu. Kulihat Ustadz Adi di Gambar. Aku Tak Kuasa Menahan Air Mata Ini. LOSS. Seperti Tutup Air Minum Putar Yang Loss, Itulah Pengibaratannya.
Aku Kembali Berbaris.
Aku masih menangis. Aku Menangis Sampai Ruku' Beberapa kali. Ruku' disini Mengeluarkan Urat uratku. Sebenarnya kalau ruangan itu tanpa orang, Aku Mengeluarkan Urat uratku dengan Teriak. Tapi kini dengan Mengeraskan Otot Leher.
Aku Memang Susah dan Jarang Sekali Menangis. Tapi Jika Sudah Menangis, Anda Lihat Saya Susah Sekali Berhenti. PARAH.
-Thariq
(pic: David Luiz)
Kami Diberikan Waktu.
Tangisku tak kunjung reda.
...
Setelah Beberapa saat, Kami disuruh duduk di Tangga untuk Berfoto Bersama. Aku yang tak kunjung puas dengan aliran deras ini langsung menyeka ari mata ini. Aku duduk walaupun Masih Tertunduk. Kami diperintahkan Mengangkat Piala Masing Masing.
...
Setelah Berfoto, Kami Dianjurkan Mengambil Nasi yang Disediakan 3 Kotak Masing masing orang.
Kami banyak berfoto.
Saat aku berjalan santai mengambil pialaku yang tadinya kuletakkan di Meja, Ada Panggilan Dari Belakang.
Thar!.
What The....
Inikah Ukhuwah?
Indah Rasanya, ya.
Mengapa Aku Baru sadar Sekarang?
...
Saat Aku Mendekati Rahmad,...
Aku ingin Memberinya Surat Persahabatan.
Aku telah menyiapkan Surat itu Sejak Seminggu yang lalu.
Jawabannya membuatku Tersentak.
"Biaso me Lah Thar."
"..."
Aku memasukkannya lagi.
Tak kusangka.
Sudahlah. Terlalu Sedih untuk Diungkit Kembali.
Aku Pulang bersama Nabiila A.
Last of The Last,,
TAMAT.
Cahaya Makkah,,
TAMAT.
(ini Pelawakan atau Penyiksaan? :v)














































