Kamis, 01 Februari 2018

Budi.

Sebuah Cerpen Berdasarkan Kisah Nyataku.

( Peristiwa ini terjadi pada 31 Januari 2018 )

Prak...,Prak...,Prak !

Langkahku Menjejak hampir disepanjang Jalan.

Tadi ,, Aku Main Sepak Bola dibelakang Sekolah.Ayahku tak tahu tempat itu ,, hingga aku harus pulang jalan kaki lewat komplek Tamiang Permai. Kami tak Diizinkan main di Lokasi Sekolah karena lapangan sekolah kami terbuat dari Pasir ,, sehingga bila musim kemarau , BERDEBU.

Hanya Keluar Beberapa Langkah Aku mendengar ada Motor Vixion Sport dibelakangku.

"Ayo ikut , dek !"

Whaaat ,,, apah?

Aku, sebagai orang yang baik hati dan tidak sombong ... (bercanda)

Aku, sebagai orang  yang selalu waspada tindak kriminalitas , menolak tawaran menggiurkan itu.
"Ah , jangan lagi" ucapku sambil senyum.

Kurasa dia tau maksudku menolak. Dia tau aku waspada akan penculikan .

"Nggak , ini abang tukang tu."
dengan logat jawa yang tidak terlalu jelas , tapi masih bisa terdengar ditelingaku.

Seketika , aku teringat pada peristiwa beberapa bulan silam.



" THARIIQ , BELIKAN IBU KELAPA MUDA , 4 BUNGKUS "
Ibuku memang seperti itu. TEGAS
Aku memberhentikan tendanganku kearah Naufal. Biasalaaah main bola mini...

"Yaa ! Mana uangnya ? " Tanyaku.
"AMBIL AJA DILACI"

...

Aku putar gas sehabis habisnya.
Aku tidak berdua dengan naufal ,
Melainkan dia juga memacu motor mionya.

Sesampai di gang tamiang , tepatnya beberapa meter sebelum rumah Arkan , ada Abang abang jualan Tikar berhentiin kami.

"EH KALIAN !"
"Ada yang liat teman abang yang bawa ginian gak ?" (Sambil nunjuk tikar dagangannya)

"Gak" kata kami berdua.

"Oooh... kalau begitu boleh numpang gak ?" 

Aku yang lagi berfikir 'Angkut,Tidak?'
'Ego,Pahala?' Terluluhkan oleh letihnya dia.

"Gak akan berat ni..." katanya.
Mungkin dia tau mukaku yang menunjukkan keraguan dan agak ketidak ikhlasan.

Aku gak ngebut lagi.

Saat melewati polisi tidur , dia oleng dimotorku-dan hampir jatuh. 

Naufal tertawa , tapi hanya aku yang melihatnya.

" Waduh , kalau jatuh ,ini mahal gantinya dek "

"Ya"

Dari polisi tidur itu , 100 meter-an aku disuruh berhenti.
"Adek kemana ? Kanan , kiri ? "
"Kiri." Kiri adalah arah kesekolahku, kanan ke kampung pasir.

"Ooh.. berarti abang berhenti disini aja ya!"

"He eh." Jawabku sambil mengangguk.

Dia mengangkat kembali tikar yang menurutku berat.

Rasa iba dihatiku membuatku sedikit lebih ikhlas.

...

"Ooh.." kataku sambil naik Vixion yang terlihat masih kinclong itu.

Motor mulai melaju. "Lurus atau kanan ,dek? "  ,,  Persimpangan inilah peristiwa itu terjadi. Bedanya ini dari arah sekolah.
"Kanan."
MOTORNYA LURUS , AKU KAGET , SUDAH MENGIRA INI PENIPUAN
"Baaang Kaanaaaaan"
"Oh, Iya !"
Sambil memutar motor , aku memandangi bentuk nya.

Aku berbicara dihatiku
"Honda iyo Vixion , Tapi tarompa swallow !"
"Astaghfirullah! Harusnya aku bersyukur sudah bisa numpang"

Karena motornya Vixion , jadi di Polisi tidur waktu itu tidak terasa sama sekali.

Aku diantar sampai toko. Padahal waktu aku mengantar abang ini saja hanya beberapa ratus meter.

Jarak dari sekolah ke toko hampir sekilometer.

"Di jalan besar kan ?"

Aku balik bertanya, "Dimana Rumah abang ?"

"Simpang Tiga Ophir kedalam"



"Dah dekat lagi, tuh di PALOMA"

Motor itu berhenti dan sampai di toko.
Aku berterima kasih pada abang itu.

Coba bayangkan ,,,

Motor Kharisma Butut keluaran lama (2004)
Dibalas
Motor Vixion Keluaran baru (2017)

Beberapa ratus meter
Dibalas
Kilometer

Pagi 
Dibalas
Senja

Beban berat Tikar
Dibalas
Beban tubuhku saja.

Sebuah hutang budi orang lain akan diingat selama lamanya.
Aku tidak pernah seperti itu.

Jujur , Aku saja sudah tidak ingat dengan abang itu...


Aku memandang langit sambil mempelajari apa yang terjadi barusan.
:)











Tidak ada komentar:

Posting Komentar