Malam itu, Aku Sedang Berbincang dengan Bang Safwa dan Bang Zaki. Ketika sedang Seru Serunya, Abrar datang dan Mengatakan.., "Thariq,, Antum Dipanggil Ustadz"
Aku Menuju ke Asrama dengan Perasaan Kesal. Lagi Seru serunya njir... . Aku Masuk ke Asrama dan telah Melihat Seasrama lagi Ngumpul. Aku Auto duduk juga.
"Nah,, Sekarang Siapa yang Mengusulkan Jadi Ketua?",, Tanya Ust. Iqbal.
Aku Langsung Nunjuk Aja. Kali Kali Diangkat :v. Pemilihan Berakhir dengan Perolehan:
Aku: 18/32
Aldi: 7/32
Abrar: 7/32.
Dengan Resmi Aku Diangkat jadi Presiden Asrama Zaid bin Tsabit.
Hasil Akhir:
Presiden: Thariq Almas Neil Authar
Sekretaris Jendral: 'Abda Muhammad Subhi
Bendahara: Muhammad Abrar Mustaqim
Mentri Keamanan: Mickya Davadhil Perdana
Mentri Kebersihan: Habibi Syifau Rahman & Wafiq Azani
Mentri Komunikasi: Rayhan(ile)
~~~
Ketika itu, Aku dipersilahkan untuk Menyampaikan Visi dan Misi, Kalau tidak, Aku Gugur. Aku Auto Bingung lah. Gua Aja Baru dateng njay. Aku Minta 1 Menit untuk Berfikir.
Akhirnya aku Membuat 4 Visi dan Misi, yang Aku sendiri Sekarang Hanya Ingat 2.
Ketika Pengangkatan, Terasa Ada Beban Amanah Menimpaku. Beban.
Esok Malamnya, Ketika Hari Pertama Belajar Malam... Orang orang Pemilihan. Siapa yang Setuju kalau Struktur Kelas dengan Struktur Asrama Sama aja? daaan yang Lebih banyak ialah Struktur Kelas Sama Dengan Struktur Asrama.
Hari Hariku Dipenuhi Mengurus Urusan, Tanggungjawab, Bahkan Kalau Sandal orang di Asrama itu Tidak Rapi maka Aku harus Tanggungjawab Rapiin.
Aku Sering Diprotes Anggotaku. Seperti Nyesal ana Milih Antum, Ketua ga Teladan, dll.
Protes itu Agak Membuatku Stress. Saat Suatu Pagi Sebelum Mandi, Aku Sangat Benci dengan Keadaan ini. Protes Mereka itu Membuatku Teringin turun. Mereka tak tahu, Aku yang ada dibalik Semua Kedamaian kalian. Terkadang ada Pertengkaran, Aku yang Melerai. Seperti Pertengkaran Hakim & Wafiq, Wafiq & Ariq, Dava dan David, dll. Aku yang Mendamaikan. Tetapi Aku Orangnya ga Ngumbar ngumbar bahwa "GUA YANG NGEDAMAIIN MEREKA TADI". Bukan. Aku bukan Orang yang Seperti itu. Aku Sakit Hati dengan Protes Mereka.
Hingga suatu Sore saat aku Meminta Nasehat dan Motivasi dari Bang Safwa. Aku Kembali Semangat, Walaupun Sedih dan Stress ini Takkan Hilang. Aku Akan Membuat Mereka Dewasa.
Berbeda dengan Kelas Sebelah, yang Isinya Preman semua tapi Tertib. LAH KELAS GUA,, BOCAH BOCAH MICIN ANJENG!
Semuanya Terlihat Bocah. Ribut lah, Susah Diatur lah, Kalau Pagi pagi Kelas 7.2 Udah Rapi aja di Barisan. Lah Kelas Gua Nyebar Njir... Nah Gitu gitu Protes pula tu.
yang Paling Susah Diatur Ialah:
-Wafiq Azani.
Ia adalah Orang Ujunggading. Putih, Berbadan Gempal, Sepupunya Bang Hafiz. Berbanding Terbalik dari Bang Hafiz yang Shaleh, Dia Bisa Gua Bilang BOCAH. Stiap Hari Bikin Masalah. Aku Telah Menjinakkannya DIHADAPANKU, Bukan Hadapan Orang Lain. Caranya:
Disaat Belajar Malam Aku Berada di Bagian Kiri Asrama. Aku Jauh Dengan Ariq. Sedangkan Ariq didekat Wafiq waktu itu. Ariq Bercandain Wafiq, Dengan Mencibir cibirnya. Eh malahan Langsung dibody, dengan Badan Gempalnya, Semua Orang Bisa Kalah dengan Bodynya. Saat Ariq Sudah Tersudut, Ariq Mainkan Sikutnya. Alhasil Pipi Wafiq Lebam. Saat Lebam, Aku Memisahkan Mereka Berdua. Ariq Seperti Biasa, Bisa Mengontrol Emosi, Membetulkan Poninya dan Senyum Puas Bonyokin Muka Wafiq.
Besoknya Ariq Memanas manasinya. Ariq bilang bahwa Wafiq gaakan Kuat Melawanku. Wafiq memintaku untuk Memperlihatkan ototku. Yaa Bukannya sombong, Ototku memang terurus, Lebih dari Faras. Dia tercengang. Alhasil dia takut padaku.
Oiya sedikit diluar Topik, Semenjak di Al Kahfi Gaya Rambutku Berubah. Tak Pernah Kebawah. Selalu Tegak. Ariq pun Mengakui dia Iri kepadaku. Ia bilang aku ini gagah sekarang (Ahayahay Kembang Hidung 5 meter) Ia pun Mengakui bahwa Aku ini Lebih daripadanya.
Etatapi...
Aku Pangkas rambut. Semenjak pangkas, jika Rambutku tak Dipakaikan Minyak rambut, Bentuk Botak anjir. tapi kalo Pake Masih masih lah.
Oiya. Jika Mau Mengetahui Keberadaanku Pagi pagi liat aja Asrama Tengah pas Lagi Baris yang Nyiapin,, sama yang Rapiin semua Sepatu di sudut belakang kanan masjid. dan Tempat dudukku ada di Paling dekat Pintu Belakang Masjid. Aku Biasa Ngintip Keluar.
Ustadz Iqbal, dari Aceh. Dia Jika Melihatku salah cuma Melihat Tajam dan pandangan Kecewa. Berbeda dengan Ustadz Bambang yang Ngomong Terang Terangan. Aku Lebih takut dengan Ust. Iqbal kalau sedang Marah padaku.
Pagi itu, Aku Menyiapkan. Aku Memanggil semua orang untuk baris. Leherku seketika seperti Kesambet apaa gitu,, yang Membuatku Batuk Sampe Sekarang. daan Itu juga Karena Mereka.
SERBA SALAH.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar