Kamis, 23 Agustus 2018

Orang yang Tak Terduga

Disuatu Maghrib...,,

Setelah Shalat... Seperti Biasa, Kami Bersalaman. Sudah menjadi budaya bagi kami untuk Menguatkan Salaman sampai orang kesakitan. 

Aku melihat Fadhil Menyalami Luthfi seperti itu. Aku mendekatinya, yang tampaknya si Korban Telah Kesakitan.

Aku ikut ikutan Menyalami Luthfi dengan keras, Sampai Luthfi Kesakitan hingga tersujud. Kulihat dia Menangis.

Aku yang sedang berada di masalah itu langsung Mengakui diri ke Ustadz ustadz sekitar. Mungkin karena jujur, aku dibiarkan saja.

Aku segera menyendiri Ke Shaf paling Belakang, Seraya Membaca Alqur'an dengan Penuh Emosi.

Kurasa tadi tak begitu kuat...

Itu yang terfikir diotakku, terus menerus.

Inilah aku, Jika Emosiku terlalu tinggi dan diatas Batas,, Aku akan Menangis.

Dengan penuh penyesalan aku Membaca Qur'an. Orang orang mendekatiku, Ariq, Radit, dan Satu orang yang ku tidak tau namanya. Usut punya usut, Namanya Ariel. Dia dari Ujunggading.

Mereka minta aku peragakan Salamku ke Luthfi tadi. Mereka mengaku tak kesakitan. Tapi aku Mencoba Menjelaskan, Tangan Luthfi tadi Posisinya Kurang Enak, Seraya mengulang pemeragaan salam tadi, dengan posisi tangan Luthfi yang tadi. Radit dan Ariel menjerit.

Kunjungan mereka Meredakan Amarahku.

Setelah Menyelesaikan 4 Halaman, Aku Menghampiri Luthfi yang berada di Shaf Kedua, Membaca Qur'an Sambil terisak. Aku Meminta maaf, dan Jawabannya diluar Nalar.

"Bukan salah antum tadi tu Thor"

What the Fuck, Anjer?

Udah sejelas itu Aku salah, yasudah, lagipula tandanya dia Memaafkan.

Akupun Pergi Keluar Masjid, Menuju Asrama Untuk Makan.

Di Perjalanan, Aku merenung.

Belum Sampai 2 Minggu disini, Aku telah Membuat Orang menangis hingga 2 Orang. Bagaimana 3 Tahun?

Hmmm... aku pergi sajalah cepat cepat ke asrama!

Dengan Mata Berkaca Plus Merah aku menuju dipan. Emosiku naik lagi. Terfikir di benakku bahwa Namaku telah ternoda. Harusnya perkataan Luthfi tadi dibilang pake TOA, Supaya orang tau. Aku duduk untuk Menenangkan Diri. Rofiq dan Bintang sudah Memandangku dari tadi. Aku yang Biasa Menghibur mereka, sekarang hampir menangis. Tapi mereka bahkan tak Selangkahpun Mendekatiku untuk Menghiburku. Bayangkan betapa Kecewanya aku saat mereka hanya DIAM disaat aku seperti itu.

Tiba tiba...

Dua Orang datang Mendekatiku.

Ternyata dia adalah David G.P dan Rayhan Gusti Anugrah. Muka mereka tampak Care. Rayhan Membuka Perbincangan " Napa antum?" David pun ikut Angkat Suara "Biasalah Thor.., Orang tua kita Sibuk Nyari nafkah untuk kita... Biasa aja ga ditengok tu", Dengan Nada Memelas. Rayhan pun ikut Mengiyakan. Aku Spontan Tertawa Ringan. Wong Orangtuaku saja tadi Sudah Nengok, Jadi Jelas Banget "Menghibur"nya itu. "Dah yok, Makan! Dah Lapar nih" Lanjut David.

Dengan Mata dengan kondisi tadi dan Mulutku sudah Tersenyum, Aku Melanjutkan makan.



Hingga Sekarang Aku Sangat Dekat dengan Mereka berdua, tapi tetap tak sedekat aku dengan sahabatku.



Terkadang,,,

Yang Difikirkan itu Berbanding Belakang dengan Kenyataannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar