Sabtu, 25 Agustus 2018

KUHARAP DIA MASIH SUDI MEMBACA BLOG INI.

BALADA MENJADI KETUA

Malam itu, Aku Sedang Berbincang dengan Bang Safwa dan Bang Zaki. Ketika sedang Seru Serunya, Abrar datang dan Mengatakan.., "Thariq,, Antum Dipanggil Ustadz"

Aku Menuju ke Asrama dengan Perasaan Kesal. Lagi Seru serunya njir... .  Aku Masuk ke Asrama dan telah Melihat Seasrama lagi Ngumpul. Aku Auto duduk juga.

"Nah,, Sekarang Siapa yang Mengusulkan Jadi Ketua?",, Tanya Ust. Iqbal.

Aku Langsung Nunjuk Aja. Kali Kali Diangkat :v. Pemilihan Berakhir dengan Perolehan:

Aku: 18/32
Aldi: 7/32
Abrar: 7/32.

Dengan Resmi Aku Diangkat jadi Presiden Asrama Zaid bin Tsabit.

Hasil Akhir:

Presiden: Thariq Almas Neil Authar
Sekretaris Jendral: 'Abda Muhammad Subhi
Bendahara: Muhammad Abrar Mustaqim
Mentri Keamanan: Mickya Davadhil Perdana
Mentri Kebersihan: Habibi Syifau Rahman & Wafiq Azani
Mentri Komunikasi: Rayhan(ile)

~~~

Ketika itu, Aku dipersilahkan untuk Menyampaikan Visi dan Misi, Kalau tidak, Aku Gugur. Aku Auto Bingung lah. Gua Aja Baru dateng njay. Aku Minta 1 Menit untuk Berfikir.

Akhirnya aku Membuat 4 Visi dan Misi, yang Aku sendiri Sekarang Hanya Ingat 2.

Ketika Pengangkatan, Terasa Ada Beban Amanah Menimpaku. Beban.

Esok Malamnya, Ketika Hari Pertama Belajar Malam... Orang orang Pemilihan. Siapa yang Setuju kalau Struktur Kelas dengan Struktur Asrama Sama aja? daaan yang Lebih banyak ialah Struktur Kelas Sama Dengan Struktur Asrama.

Hari Hariku Dipenuhi Mengurus Urusan, Tanggungjawab, Bahkan Kalau Sandal orang di Asrama itu Tidak Rapi maka Aku harus Tanggungjawab Rapiin.

Aku Sering Diprotes Anggotaku. Seperti Nyesal ana Milih Antum, Ketua ga Teladan, dll.

Protes itu Agak Membuatku Stress. Saat Suatu Pagi Sebelum Mandi, Aku Sangat Benci dengan Keadaan ini. Protes Mereka itu Membuatku Teringin turun. Mereka tak tahu, Aku yang ada dibalik Semua Kedamaian kalian. Terkadang ada Pertengkaran, Aku yang Melerai. Seperti Pertengkaran Hakim & Wafiq, Wafiq & Ariq, Dava dan David, dll. Aku yang Mendamaikan. Tetapi Aku Orangnya ga Ngumbar ngumbar bahwa "GUA YANG NGEDAMAIIN MEREKA TADI". Bukan. Aku bukan Orang yang Seperti itu. Aku Sakit Hati dengan Protes Mereka. 
Hingga suatu Sore saat aku Meminta Nasehat dan Motivasi dari Bang Safwa. Aku Kembali Semangat, Walaupun Sedih dan Stress ini Takkan Hilang. Aku Akan Membuat Mereka Dewasa.

Berbeda dengan Kelas Sebelah, yang Isinya Preman semua tapi Tertib. LAH KELAS GUA,, BOCAH BOCAH MICIN ANJENG!
Semuanya Terlihat Bocah. Ribut lah, Susah Diatur lah, Kalau Pagi pagi Kelas 7.2 Udah Rapi aja di Barisan. Lah Kelas Gua Nyebar Njir... Nah Gitu gitu Protes pula tu.

yang Paling Susah Diatur Ialah:

-Wafiq Azani.
Ia adalah Orang Ujunggading. Putih, Berbadan Gempal, Sepupunya Bang Hafiz. Berbanding Terbalik dari Bang Hafiz yang Shaleh, Dia Bisa Gua Bilang BOCAH. Stiap Hari Bikin Masalah. Aku Telah Menjinakkannya DIHADAPANKU, Bukan Hadapan Orang Lain. Caranya:

Disaat Belajar Malam Aku Berada di Bagian Kiri Asrama. Aku Jauh Dengan Ariq. Sedangkan Ariq didekat Wafiq waktu itu. Ariq Bercandain Wafiq, Dengan Mencibir cibirnya. Eh malahan Langsung dibody, dengan Badan Gempalnya, Semua Orang Bisa Kalah dengan Bodynya. Saat Ariq Sudah Tersudut, Ariq Mainkan Sikutnya. Alhasil Pipi Wafiq Lebam. Saat Lebam, Aku Memisahkan Mereka Berdua. Ariq Seperti Biasa, Bisa Mengontrol Emosi, Membetulkan Poninya dan Senyum Puas Bonyokin Muka Wafiq. 

Besoknya Ariq Memanas manasinya. Ariq bilang bahwa Wafiq gaakan Kuat Melawanku. Wafiq memintaku untuk Memperlihatkan ototku. Yaa Bukannya sombong, Ototku memang terurus, Lebih dari Faras. Dia tercengang. Alhasil dia takut padaku.

Oiya sedikit diluar Topik, Semenjak di Al Kahfi Gaya Rambutku Berubah. Tak Pernah Kebawah. Selalu Tegak. Ariq pun Mengakui dia Iri kepadaku. Ia bilang aku ini gagah sekarang (Ahayahay Kembang Hidung 5 meter) Ia pun Mengakui bahwa Aku ini Lebih daripadanya.

Etatapi...
Aku Pangkas rambut. Semenjak pangkas, jika Rambutku tak Dipakaikan Minyak rambut, Bentuk Botak anjir. tapi kalo Pake Masih masih lah.

Oiya. Jika Mau Mengetahui Keberadaanku Pagi pagi liat aja Asrama Tengah pas Lagi Baris yang Nyiapin,, sama yang Rapiin semua Sepatu di sudut belakang kanan masjid. dan Tempat dudukku ada di Paling dekat Pintu Belakang Masjid. Aku Biasa Ngintip Keluar.

Ustadz Iqbal, dari Aceh. Dia Jika Melihatku salah cuma Melihat Tajam dan pandangan Kecewa. Berbeda dengan Ustadz Bambang yang Ngomong Terang Terangan. Aku Lebih takut dengan Ust. Iqbal kalau sedang Marah padaku.

Pagi itu, Aku Menyiapkan. Aku Memanggil semua orang untuk baris. Leherku seketika seperti Kesambet apaa gitu,, yang Membuatku Batuk Sampe Sekarang. daan Itu juga Karena Mereka.


SERBA SALAH.


ADAPTASI


Aku Telah Menjadi Anak SMP IT AL KAHFI. Tentunya Banyak Perubahan. Kali ini Aku Akan Menceritakan Sekitar Perubahan.

Bagi Anak Pesantren, Mau Gamau Harus Pisah dengan Orangtuanya. Meski Udah Ada yang terbiasa, tapi Semua Anak Pesantren Pasti Rindu Orangtuanya. Begitu juga denganku. Karena Aku Sudah Sebulan Tanpa Orangtua di Jakarta, dalam Soal Rindu Aku Minim. Tapi yang Membuat Rinduku Bangkit ialah Ketidakbiasaanku Melakukan Pekerjaan. Contohnya Dalam Hal Mencuci. Awalnya Aku Mencuci itu Asal Nyuci Doang, Gapake Dibilas. Dua Kali Nyuci Aku Seperti itu, Hingga Orang UGC Menertawakanku, melihat saat dijemur bukan Air yang bercecer, malah Busa Sabun. Sekarang Aku Mencuci 2 Hari Sekali, Tak Seperti Zaki A yang Tak Pernah Mencuci, Selalu dibawa Pulang.

Dalam Hal Cinta, Ini Perlu Komitmen yang Kuat. Meski Rindu tak Tertahankan tetapi Kita Harus Sabar, Komitmen kuat. Bahwa aku Takkan Berpaling. Aku Akan Tetap Setia. Aku Tak yakin yang Kucintaipun Komitmen atau Tidak. Aku Hanya Ingin YAKIN Padanya.

Berteman, Berkat Sifat Baruku ini Aku Mudah Sekali Membaur dengan Temanku. Malahan yang TEMAN Paling dekat ialah dari Kelas Sebelah. Ingat ya, Teman, Bukan Sahabat.

HP, Aku Agak Susah Dalam Hal Ini. Ketikan Akan Numpuk Semakin Lama. Dalam Hari ini Saja, Hari Terakhir Libur Aku Telah Menghabiskan 4 Jam dan 3 Postingan. DEADLINE.

Di Al Kahfi ini, Aku Jarang Memakai Bahasa Indonesia Kepada Abang Abang. Aku Biasanya Memakai Bahasa Inggris. Terlebih lagi Kepada Abang Abang English Club. Seseorang yang Paling Sering Berbincang denganku, dengan Bahasa Inggris yaitu Bang Hamid. Kepada Teman Teman Begitu, Tetapi Seperti Ustadz Isran, Campur campur.

REALITA JUJUR


Ada orang yang Mengatakan “Jujurlah Meskipun itu Menyakitkan”

Bagiku itu Sedikit Meleset.

Okay, Kita Lanjut ke Ceritanya.

~~~~~~~~~~~~~~~~

Qobla Maghrib,,

Aku Mengajak Arkan Untuk Menyingkir kesamping Masjid. Aku ada Suatu Pembicaraan Pribadi; yang Mungkin Menyakitkan.

Kolam Ikan yang Remang Remang Keliatan oleh Lampu Masjid, Sepertinya Pas Buat Dia Kesel.
Kubuka Pembicaraannya.

“Eh, Ana Mau Jujur nih. Tapi Janji dan Sumpah Jangan Marah ya.”

“Iya”

“Sebenarnya Ana udah Nikung Antum.”

(Aku telah Membiasakan untuk tak Memanggil Abang Kepadanya lagi)

“HAH?”

“Iya. Si May itu, Pas Antum Masih Suka”

Mukanya Telah Memasam.

“Awalnya Gini. Dia Ngechat ana Terus Bilang ‘Kamu Kenal Arkan?’ ya Dijawab Iya.”

“Lama Lama Chat, Basa Basi, Sampai Ke Puncak Keakraban Hingga Terbesit Niat Ngeprank”

“Eh BTW antum tau Prank kan?”

“Ngga”

“Ngerjain”

“ooh”

“Ana Prank Dia. Dia Awalnya Nanyain Lagi Ngapain. Trus Ana Jawab Melamun. Dia jawab Mikirin Apa, Ntar Kesurupan loh. Trus Ana Jawab Mikirin Kamu. Dia Nanya Maksudnya Berkali Kali, Ana Jawab Itu Terus. ‘Mikirin Kamu’”

“Sampe Akhirnya Ana Bilang ‘Aku Suka Kamu’ dan dia bilang Berarti ‘Sama Dong’ Dia Ngirimin Kata Kata Mutiara tentang Cinta Terus, Sampe Ana Muak dan Akhirnya Jujur Itu Cuma Prank. Nangis deh.”
“Cuma Sehari aja Ana Bisa Dapetin Dia. Awal dia Chat Ba’da Maghrib dan Dapet Besoknya Ba’da Isya.”
“Lain lo”
Dia Pergi Saja tapi dengan muka Biasa, Meninggalkan Dua Kata tadi. Tetapi Aku tau Di Hatinya itu Sangat Panas.

Besoknya, Kelihatannya dia Curhat.

“Ana Gabisa Kalau Tikung Tikung tu doh. Meskipun udah Ga Sayang Lagi, Rasanya Lain aja. Ana Udah Dukung Antum Dengan Salma Sampe Sebegitunya. Kenapa Antum Balas Kaya’ Gitu. Kecewa.”, Dengan Nada  Memelas.

Aku yang Mendengar Kalimat itu Langsung Menyesal telah Menikungnya.

Setelah itu, Sepertinya Dia Curhat ke Bang Hamid. Ba’da Ashar aku Diceramahi Bang Hamid.

“Eh. Antum Pacar Antum Kakak Kelas Antum Pula.”
“hah?”
“Ah, Entahlah. Kayaknya Ana Salah Dengar.”
“Apayaaa”
“Gaboleh kita Nikung nikung tu. Coba Ibu Antum Sebelum Nikah Digituin. Sakit Hati Antum Kan?”

What? Padahal Kan May Setingkat Kelas, Kelas 7...
Aku Cerna Kalimat kalimat itu.

Aku Menyesal.

2 dari 12 Orang Fansku telah Aku Prank dengan Kejam. Seberapa Berdosanya Aku. HAH! Parah banget Gua. Gua Kayaknya Laki Laki Murahan.

Setelah Kejadian Jujur itu, Aku Dipanas Panasin Arkan Terus. Dia Mengancam Akan Mengambil Salma, terus Akan Diprank juga Supaya dia Gamau Suka Suka Lagi. Cih, Hatiku Berhasil Dibuat Panas.

Besoknya, Aku Bertanya Ke Bang Hamid.

“Abang Kenal Dimana dengan dia? Bang Zikri juga Suka Katanya?”
“disini”
“hah?”
“Kok Bisa?”
“Ai Kan?”
“NJER...NJERR... yang Kami Bicarain tuh MAY.... MAYZAHRAHKHALILLAH...”
“Kan... Bener.... Salah Denger... Ah Gara Gara Main Bola nih Semuanya Jadi Gagal Faham”,, Dengan Nada Rasa Malu.


Malamnya Aku Langsung Katakan Kepada Arkan.
Aku Ke Asrama Sebelah, Ke Ujung, Kedipannya Arkan.
Kulihat Arkan Lagi Santai Santai Diatas Dipan, Aku Bilang Ada yang Mau Dibilang. Dia Mempersilahkanku Naik Keatas, Kedipannya.

“Salah Dengar Kalian tu. Bang Hamid Salah Dengar Pula May dibilang Ai. Antum Bilangnya pas Maen Bola ya?”

“Hah? Salah Dengar? Oooh Mungkin Karena Capek tu. Berarti Mereka ga Kenal ya Sama May” dengan Nada Malu.

Besok Besoknya Hubungan Kami Tambah Membaik.

Suatu Sore Setelah Olahraga...
“THOR!”

Ada Seseorang Memanggilku, yang Suaranya tak Asing Lagi di Telingaku. Arkan.

“Ada Berita Buruk Bagi Ana. Ternyata May sekarang Pacarnya Kevin!”

“Apah? Bukannya Kevin SD Jambak Sedangkan May di SDN 09?”

Gambar mungkin berisi: 1 orang, luar ruangan

“Gini Awalnya hah. Ana Lihat ditangan Kevin tu Ada Tulisan MZ. Fikiran ana Langsung Kesana Aja. Ana Tanyain ke dia, Eh Ternyata Benar. Mereka Sama Sama Les GO (Ganesha Operation)”

Setelah Kejadian Itu, Kami Kembali Seperti Dulu. Yel-yel Kami Berdua, Sepertinya Bukan Yel yel sih. Ketika Salaman Kami Biasanya Melakukan: Arkan Menyebutkan Sal, Sedangkan Aku Menyebutkan Saf. Artinya Kami Deal Membalikkan Kesepakatan dulu. Wkwkwkw Bukan Kesepakatan, tapi Ancaman dia. Saat Sakit Hati dia Sering Mengatakan,, Salma Untuk Ana Aja ya, Biar Safna Buat Antum. Wkwkwkw Gamaoo...!
Ternyata Jujur Walaupun Menyakitkan itu Benar adanya, Tapi Butuh Waktu.

DIANTARA TEMAN LAMA DENGAN SAHABAT.


Aku Sudah Mulai Terbiasa di Asrama. Ariqpun Semakin dekat denganku, Walaupun Kata Kata Kasarnya itu tak Pernah Berhenti.

Disuatu Maghrib,,

Aku Memakai Sarung dibelakang Hijab Masjid dengan Kelas. Tiba tiba Aku Mendengar Suara Kebisingan Dari Depan, yang Lebih Mirip Suara Perkelahian. Kalau Bahasa Minangnya; Badabuih. Suara itu Berulang Beberapa kali. Orang orang Beranjak dari Duduk Untuk? Aku Masih Belum Tau Waktu itu. Aku Melihat Kesebalik Hijab, FARAS Te.... eh. Tunggu dulu. Aku Akan Memperkenalkannya dulu.

FARAS, Seorang yang Tampan Kelahiran 2004, yang Mungkin Bisa Membuat Akhwat akan Langsung Tertarik Melihatnya. Apalagi dengan Badan yang Lumayan Bagus, Sekedar Berbidang tapi tak Berbentuk. Ia Dari SDN 09 Pasaman.

Dah. Kita Lanjut. Faras Menimpa bagian paha Seseorang, Lalu Meninju Ninju dada dan Muka Orang itu. Tampaknya Keras. Akupun Melihatnya Ngilu.
Setelah Melerai Mereka, Aku Segera ingin Tahu Siapa yang Dihabisi Tadi. WOW. Tidak Kusangka. Aku Melihat Sosok yang Sangat Kusayangi. Masya Allah. Ialah Sahabatku, Ariq. Setelah dia “Dikeroyok” (Aku Menyebutnya dikeroyok karena Tinjuan Beruntun tadi Level Keroyok) Faras, Dia Hanya Menghela Nafas dan Membetulkan Poni Rambutnya, Serta dengan Gaya Santai, Menjauh. Aku tak Terima Sahabatku diperlakukan Seperti itu. Takkan Rela.
 Selama Beberapa Saat, Mereka dipanggil Bang Fikri. Didamaikan, yang tampaknya Muka Faras masih Emosi.

Aku Mengatakan Kepada Ariq yang Kurasakan, Bahwa aku tak rela ia Diperlakukan macam itu. Ariq Cuma Berkata :
“Ana Gak papa Sebenarnya. Biasa Aja.”

Meski Kalimat tadi Bertujuan untuk Menenangkanku, aku tak Tenang juga. Hingga aku Duduk dan Istighfar.

Aku tanya Baik Baik.

T: Tadi tu Sebenarnya Kenapa ya? Siapa yang duluan?
A:  Ana yang Duluan. Tapi Sebenarnya dikit nyoh.

Aku jarang Melihat Ras Manusia Macam ini;Jujur. Jarang ada yang Mengakui Kesalahannya Sendiri.

POKOKNYA FUCK DAH BUAT FARAS!!

~~~~~~~~~~

Ku mendekati Faras disebelah Kiri Masjid. Kusalami dan Senyum Kepadanya. Aku duduk Disampingnya.

“Sebenarnya yang Salah tadi Siapa?”
“Dia nyoh. Diejek ejeknya ana tadi”
“Ooh. Udah Maaf Maafan?”
“Ga Sudi”
“Kenapa?”
Dia tak Menjawab.
“Oh yaudah.”

“Eh Antum Masih Ingat Ana ga?”
“Hm?”
“Kita kan Temenan Baik Di TK AL FARAS Dulu,,”
Faras Menepuk Pundakku.

“Iyalah. Thariq kan?”
“yap”

Aku tak Menyangka Reuni Terjadi disini. Kami dulu Sedekat Sahabat, Hingga Terpisah dan melanjutkan Hidup Masing masing, Seperti Tak Kenal.

Sebenarnya Aku Fifty-Fifty Memihak Pada Mereka. Disatu Sisi, Faras Adalah Sahabat Lamaku. Dia Anak Bu Guruku di TK. Sedangkan Ariq, Sahabatku Hingga Sekarang. Yang “Fuck dah buat Faras” diatas hanyalah PRANK buat Kalian.

Rindu

Kondisiku yang Sekarang, didalam Pesantren,, Membuatku Merasa Beda, Terlebih Lagi di Poin Akhwat.

"AAARRGHH"

Kutendang Batu itu Dengan Penuh penyesalan. Harusnya Aku Mendengarkan Arkan.

"Nyesal Antum Nanti tu. Lemah. AJAKLAH BICARA DIA YA."

Kata kata Arkan yang itu Terngiang-ngiang Kembali di Kepalaku. Aku Sangat Menyesal dulu aku Hanya Mempunyai Mental Kerupuk. Harusnya Aku dulu Bisa Akrab Dengannya.

Satu Kalimat yang Selalu Terfikir Dimataku ialah...,



Ya. Kondisi ini Serasa Menyiksaku.

Kita Semua Telah Belajar Al Hujurat Ayat 13. MANUSIA DICIPTAKAN ATAS LELAKI DAN PEREMPUAN. Kami, Lelaki juga Butuh Perempuan Sebagai Pemacu dan Penyemangat.

Di Asrama Aku Sampai Sering Bernyanyi Salah Satu Lagu yang Kudapat saat di Tangerang kemarin.

CALUM SCOTT - YOU ARE THE REASON

There goes my heart beating
Jantungku berdetak

Cause you are the reason
Karena kaulah alasannya

I'm losing my sleep
Tidurku tak nyenyak

Please come back now
Kumohon, kembalilah

There goes my mind racing
Pikiranku berpacu

And you are the reason
Dan kaulah alasannya

That I'm still breathing
Aku masih bernafas

I'm hopeless now
Kini aku putus asa

I'd climb every mountain
Kan kudaki semua gunung

And swim every ocean
Dan kurenangi semua laut

Just to be with you
Demi untuk bersamamu

And fix what I've broken
Dan perbaiki yang tlah kulakukan

Oh, cause I need you to see
Oh, karena kuingin kau tahu

That you are the reason
Bahwa kaulah alasannya

There goes my hands shaking
Tanganku bergetar

And you are the reason
Dan kaulah alasannya

My heart keeps bleeding
Hatiku terus terluka

And I need you now
Dan aku membutuhkanmu

If I could turn back the clock
Andai bisa kuputar kembali waktu

I'd make sure the light defeated the dark
Kan kupastikan cahaya kalahkan gelap

I'd spend every hour, of every day
Kan kuhabiskan seluruh waktu, setiap hari
Keeping you safe

Pastikan kau aman sentosa

I'd climb every mountain
Kan kudaki semua gunung

And swim every ocean
Dan kurenangi semua laut

Just to be with you
Demi untuk bersamamu

And fix what I've broken
Dan perbaiki yang tlah kulakukan

Oh, cause I need you to see
Oh, karena kuingin kau tahu

That you are the reason
Bahwa kaulah alasannya

I don't wanna fight no more
Aku tak ingin bertengkar lagi

I don't wanna hide no more
Aku tak ingin sembunyi lagi

I don't wanna cry no more
Aku tak ingin menangis lagi

Come back I need you to hold me
Kembalilah, kuingin kau mendekapku

(You are the reason)
(Kaulah alasannya)

Come a little closer now
Mendekatlah

Just a little closer now
Mendekatlah

Come a little closer
Mendekatlah

I need you to hold me tonight
Malam ini kuingin kau mendekapku

I'd climb every mountain
Kan kudaki semua gunung

And swim every ocean
Dan kurenangi semua laut

Just to be with you
Demi untuk bersamamu

And fix what I've broken
Dan perbaiki yang tlah kulakukan

Oh, cause I need you to see
Oh, karena kuingin kau tahu

That you are the reason
Bahwa kaulah alasannya


Cih. Alasannya Mungkin Telah Pergi.

...

Akupun Mulai Menyukai Lagu itu, Karena Lagu itu Sebagiannya Berdalil Kepada Keadaanku Sekarang.

 Dimanapun, Kapanpun, Bagaimanapun Aku Tetap Akan Suka Musik.

Rindu ini Seakan Merenggut Pemikiranku. Tak Tanggung tanggung, Aku jadi Sering Bermenung daripada Biasanya. Mataku Liar Mencarinya tiap Saat. Disaat Jam Pelajaran, Olahraga, dll., Mataku Pasti Liar. Sepasang mata yang Menemaniku saat Liar,, Kalian Juga Pasti Tahu. Arkan.

Aku tak Peduli Ucap Arkan yang Mengatakan Safna sekarang Tinggi, Tambah Cantik, dll. Aku hanya ingin Salma. Bukan yang Lain.

Disuatu Shalat Sunnah Rawatib Setelah Dzuhur yang Ga Khusyu’, malahan Fikiran Kemana Mana, Aku Berfikir Keras saat itu. Penyesalan itu tiada hentinya Menghantuiku.

Di Kelas Aku Jadi Lesu. Aku Jarang Aktif Tanya Jawab. Kurasa Aku Agak Keterlaluan Memikirkannya. Lama lama Warasku bisa terenggut nih.  Di Kelas aku terbiasa Menyanyikan Nyanyian yang Selalu Kukumandangkan saat Rindu;Pulang Kampung.  Salah satu Singlenya Anji.

MENUNGGU KAMU

Ku Selalu Mencoba
Untuk Menguatkan Hati
Dari Kamu yang Belum Juga Kembali
Ada Satu Keyakinan
Yang Membuatku Bertahan
Penantian Ini ‘kan Terbayar Pasti

Lihat Aku, Sayang
Yang Sudah Berjuang
Menunggumu Datang
Menjemputmu Pulang
Ingat S’lalu, Sayang
Hatiku Kau Genggam
Aku Takkan Pergi,
Menunggu Kamu Disini

Jika Bukan Kepadamu
Aku Tidak Tau Lagi
Pada Siapa Rindu Ini ‘kan Kuberi
Pada Siapa Rindu ini ‘kan Kuberi

Lihat Aku, Sayang
Yang Sudah Berjuang
Menunggumu Datang
Menjemputmu Pulang
Ingat S’lalu, Sayang
Hatiku Kau Genggam
Aku Takkan Pergi
Menunggu Kamu Disini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Entah Kenapa, Rasanya Pilu; Hampir Menangis Menyanyikannya.

Aku Benar Benar Menyesal.


Ditambah Lagi Ketika Bang Hamid Memintaku Untuk Mencatatkan Lirik Alan Walker-Faded yang Membuatku Tambah Tertekan.

Aku Terpaku pada dua Bagian dari lagu ini:



Aku Sangat Menyesal.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Disuatu Pagi, Pembukaan Agustusan,,

Aku Menyiapkan Pasukanku. Aku Hanya Berfikir,, Bahwa Aku Akan Melihatnya Pagi ini. Aku Menyiapkan Mereka, Tapi Mataku Liar Entah Mengarah Kemana. Ketika ingin Membawa Mereka Thawaf Keliling Lapangan, Aku Menemukan Sosok yang Kunanti nanti. Aku Sangat Beruntung Hari ini, Bisa Meredakan Rindu yang kian Menyiksa.

Efek Bertemu Dengannya Saat Itu, Aku Menjadi Sangat Powered. Aku yang Menyemangati Tanpa Henti Anggotaku. Hingga Suaraku Habis; Batuk. Semangat 7.1! Itu terus yang Keluar Dari Mulutku. Suaranya Mungkin Sampai Ke Akhwat :v

~~~~~~~~~~~~~~

Sore Itu, Hari Jum’at, Hari Penuh Terakhir Libur. Aku Mengantarkan Kunci Kantor Ayahku yang Tertinggal. Aku Memakai Setelan Jaket BARCELONA, Serta Celana Training NIKE Hitam. Setibanya Di Kantor Ayah, Aku hanya Memberikan Kunci, Lalu Kutinggal.

Saat Di Perjalanan, Aku Agak Santai. Kulihat dari Jauh Sosok Anak Seumuranku yang Memakai ?Biru Tosca? Sedang Berjalan dengan Temannya yang Mendorong Sepeda. Kudekati dia dengan Perlahan. Pas di Depan Pintu Keluar Yarsi, Aku Melihatnya Dengan Jelas. SALMA. Aku Belum Pernah Melihatnya Sedekat ini. Aku Senyum Lebar Sendiri, yang Tertutupi Kaca Helm karena sedang Gerimis. Aku Klakson, Langsung Salah Tingkah; Kabur Tancap Gas, Ngebut. Alhasil Aku Pulang dengan Muka yang Senyum Senyum Sendiri.


YOU MAKE ME POWERED


Thanks, Allah. 

Jumat, 24 Agustus 2018

Not Perfect

Episode ini SPECIAL for NAUFAL.

Aku sangat Kehilangan Sosok Naufal didalam Hidupku. Sosok yang Setia denganku walau Kenakalanku, Kejahilanku dan lain lain. Kini Aku Sangat Sedih dan Tak dapat Berkata kata lagi tentangnya.

Di SMP IT AL KAHFI, ada Seseorang yang "Sosok"nya Mirip Naufal. Dari Warna Kulit dan Rambutnya, Dia Sangat mirip Naufal. Tapi kalau dilihat dari Pola Muka, Ga Mirip.

Dialah ROFIQ. Kami Pernah Bertemu Sebelumnya, yaitu disaat Pendaftaran Tunggu. Saat itu Orangtua kami Berbincang Sebentar, Hingga Akhirnya Selesai.

Ternyata Dipannya Disamping kiri Atasku. Aku agak merasa diuntungkan dengan keadaan ini.

Hari Percobaan PDKT Pertama,, Kutawari dia Chips Ahoy saat Dia Bersama Abrar diatas Dipannya Rofiq. Abrar Mengambil 1, Sedangkan Rofiq tidak. Aku Suruh Abrar Ambil lagi buat Rofiq, masih Gamau juga. Abrar pun Menceritakan Bahwa Rofiq ini Sebenernya Rakus, Cuma Palingan Malu.

Strategi Kedua yaitu Pendekatan Melalui Sosialisasi. Aku mencoba Seperti Bocah Cerewet, tapi Cerewetnya Berkualitas. seperti Cerita. Ternyata, Rofiq ini Kenal Naufal. Tapi Naufalnya Mungkin kenal sama Rofiq. Ibunya ini Kawannya Ibuku, dan Lain Lain.

Makin Lama, Makin Ia Dekat Padaku. Aku tak Bisa Menjelaskan Satu Persatu Perjuanganku mendekatinya.

Hingga,,

Waktu itu Pemilihan Ketua Asrama. Kuacungkan tanganku tanda Mengajukan Ikut Pemilihan. Saat itu Banyak yang Memilih, namun Yang Kulihat Cuma 1. yaitu Rofiq. Sungguh Berhasil.


Lama kelamaan Kami Berteman di Asrama, bukan Kelas. kalau Kelas Abda lah. Kami jadi lumayan Dekat.

Hingga Hakim Gosip Gosip Tetangga kepadaku. Katanya:
" Rofiq tu Nampaknya Aja Pendiam nyoh. Tapi kalau Udah Ngomong, Kasar aja tu ."

Iyakah?

Aku Ingin Testing.

Aku Jahili Sedikit dengan Menggelitiki dia. Dia Auto Ngomong "Pant*k".

Aku Harus Sabar.

Kejadian itu Membuatku Kurang dekat dengannya lagi.

Hari Hari Berlalu.

Disuatu Saat..,
Prinsipku Sebelum Ambil Air Minum ialah "Menikung itu Dianjurkan". Aku Biasa Mengatakan itu saat ingin Mengambil Air. Sekali aku Gitukan Rofiq, Tanganku langsung dipukul pake MY BOTTLE miliknya.

Naufal tak Pernah Begini.

Ini Bukan Naufal.

Saat itu Langsung Terlintas Dikepalaku:



...

Aku Rindu Dia.

Aku Rindu Naufal.

Aku tak Tahu Disebrang Sana Dia Mengingatku atau Tidak. yang Penting Aku Tak Akan Pernah Melupakan Memori ini. Memori Saat Bersamanya. Kau Pasti tau Rssanya Kehilangan Sahabat Dekat. SAKIT.

...

Pasca Kejadian itu, Aku tak Pernah Lagi Mendekati Rofiq. NAUFAL TETAPLAH NAUFAL. Posisinys takkan dapat Digantikan Siapapun dihatiku.

~~~

Rindu yang Terbalaskan.

Kini Aku hanya Bisa Meratapi Nasib,, yang Mungkin Dia sendiri Tak Ingat lagi Padaku.

Disaat perpulangan Eid Al Adha...

Aku Baru Saja Bernafas Usai Disiksa Seminggu di Rimbo Binuang. Aku Mencari Gelas Didapur untuk Minum.

Ada Panggilan dari depan, Sepertinya Kakakku.

Aku Segera Mengambil Gelas Kaca yang Berstiker Angka, Serta Menuju Kedepan.

"Tuh" Kakakku Menujuk kedepan. Aku Sedikit Geram dengan Perlakuan itu. Hanya Satu kata.


...


Kulewati Pintu,, Kulihat Orang yang Ada Disebalik Meja Merah berlabel PALOMA Tersebut.

Haru. Satu Kata Tersebut Mewakili Perasaanku saat itu.

Moodku yang Rusak karena Lelah Selepas Dari Asrama pun Membaik Total.

Ingin ku Peluk dia, Tanya Kabarnya dan lain lain, tapi Sepertinya itu Agak Kelebay-an ya.

Dialah MUHAMMAD NAUFAL ABQARI.

Kusalami dia.

Penampilannya agak Berbeda Sekarang, Rambutnya Agak Keatas.

Senyumku tak Luntur luntur saat itu.

Dia Mulai Bercerita Panjang Lebar Tentang SMPnya.

Ditengah Ceritanya, Dia Senyum Kearah jalan. Aku auto Nengok.

Kecewa.

Itu yang kurasakan.

Ikhwah SMPIT DARUL HIKMAH yang Paling Kubenci ternyata yang Mengantarnya. Ternyata Naufal Dekat Dengannya. Dialah Rahmat Faudzan. Dia Ada Hubungan Dengan kakakku, dulu.

Aku menghapus Muka Kecewaku, Serta Melanjutkan Mendengarkan Ceritanya.

Hingga Giliranku Menceritakan Kejadian dan Tentang Al Kahfi.

Tak Terasa kami telah Berbincang Sampai Jam 05:30. Saatnya dia Pulang. Aku Mengantarnya dengan Motor. Aku Bawa dia Jalan jalan, Sambil Nostalgia.

"Dulu kita sering Begini ya"

...

Kubawa dia ke Jalur 32 lalu Putar Balik. Sayupan Angin Sore dan Jingganya Matahari Membuat Suasana Kami Hangat.

Naufal, You'll Never Changed.

Kamis, 23 Agustus 2018

Orang yang Tak Terduga

Disuatu Maghrib...,,

Setelah Shalat... Seperti Biasa, Kami Bersalaman. Sudah menjadi budaya bagi kami untuk Menguatkan Salaman sampai orang kesakitan. 

Aku melihat Fadhil Menyalami Luthfi seperti itu. Aku mendekatinya, yang tampaknya si Korban Telah Kesakitan.

Aku ikut ikutan Menyalami Luthfi dengan keras, Sampai Luthfi Kesakitan hingga tersujud. Kulihat dia Menangis.

Aku yang sedang berada di masalah itu langsung Mengakui diri ke Ustadz ustadz sekitar. Mungkin karena jujur, aku dibiarkan saja.

Aku segera menyendiri Ke Shaf paling Belakang, Seraya Membaca Alqur'an dengan Penuh Emosi.

Kurasa tadi tak begitu kuat...

Itu yang terfikir diotakku, terus menerus.

Inilah aku, Jika Emosiku terlalu tinggi dan diatas Batas,, Aku akan Menangis.

Dengan penuh penyesalan aku Membaca Qur'an. Orang orang mendekatiku, Ariq, Radit, dan Satu orang yang ku tidak tau namanya. Usut punya usut, Namanya Ariel. Dia dari Ujunggading.

Mereka minta aku peragakan Salamku ke Luthfi tadi. Mereka mengaku tak kesakitan. Tapi aku Mencoba Menjelaskan, Tangan Luthfi tadi Posisinya Kurang Enak, Seraya mengulang pemeragaan salam tadi, dengan posisi tangan Luthfi yang tadi. Radit dan Ariel menjerit.

Kunjungan mereka Meredakan Amarahku.

Setelah Menyelesaikan 4 Halaman, Aku Menghampiri Luthfi yang berada di Shaf Kedua, Membaca Qur'an Sambil terisak. Aku Meminta maaf, dan Jawabannya diluar Nalar.

"Bukan salah antum tadi tu Thor"

What the Fuck, Anjer?

Udah sejelas itu Aku salah, yasudah, lagipula tandanya dia Memaafkan.

Akupun Pergi Keluar Masjid, Menuju Asrama Untuk Makan.

Di Perjalanan, Aku merenung.

Belum Sampai 2 Minggu disini, Aku telah Membuat Orang menangis hingga 2 Orang. Bagaimana 3 Tahun?

Hmmm... aku pergi sajalah cepat cepat ke asrama!

Dengan Mata Berkaca Plus Merah aku menuju dipan. Emosiku naik lagi. Terfikir di benakku bahwa Namaku telah ternoda. Harusnya perkataan Luthfi tadi dibilang pake TOA, Supaya orang tau. Aku duduk untuk Menenangkan Diri. Rofiq dan Bintang sudah Memandangku dari tadi. Aku yang Biasa Menghibur mereka, sekarang hampir menangis. Tapi mereka bahkan tak Selangkahpun Mendekatiku untuk Menghiburku. Bayangkan betapa Kecewanya aku saat mereka hanya DIAM disaat aku seperti itu.

Tiba tiba...

Dua Orang datang Mendekatiku.

Ternyata dia adalah David G.P dan Rayhan Gusti Anugrah. Muka mereka tampak Care. Rayhan Membuka Perbincangan " Napa antum?" David pun ikut Angkat Suara "Biasalah Thor.., Orang tua kita Sibuk Nyari nafkah untuk kita... Biasa aja ga ditengok tu", Dengan Nada Memelas. Rayhan pun ikut Mengiyakan. Aku Spontan Tertawa Ringan. Wong Orangtuaku saja tadi Sudah Nengok, Jadi Jelas Banget "Menghibur"nya itu. "Dah yok, Makan! Dah Lapar nih" Lanjut David.

Dengan Mata dengan kondisi tadi dan Mulutku sudah Tersenyum, Aku Melanjutkan makan.



Hingga Sekarang Aku Sangat Dekat dengan Mereka berdua, tapi tetap tak sedekat aku dengan sahabatku.



Terkadang,,,

Yang Difikirkan itu Berbanding Belakang dengan Kenyataannya.

Permulaan yang Baru.



Periode Cahaya Makkah Telah Usai. Kini Aku Hanya Ingin Segera Menyembuhkan Penyakit Post-Vacation Blues - ku. Salah Satu Cara Ampuh Untuk Menyembuhkannya adalah dengan Cara Bersosial. Sosial yang Terbaik Kurasa Hanya Sekolah. di Sisi Lain Aku Tak Ingin Meninggalkan Liburan ini. Liburan ini Terasa Sangat Mahal dan Berharga untuk Ditinggalkan. Begitu Banyak Kenangan Terukir di Memoriku, Hingga ku tak Tega lagi untuk Menyudahi Semua ini...

Lama lama Penyakit ini Merenggut Diriku yang Asli. Aku jadi Sering Marah, Rasa Sakit Batin yang Teramat Sangat, Hingga Depresi.

Aku Takut Penyakit ini Mengubah Status Warasku. (:v) Hingga Kuputuskan untuk Move on dari Liburan itu dan Mulai Berkemas untuk Pergi ke Rute Perjalanan Selanjutnya, yaitu SMP IT AL-KAHFI. Alhamdulillah Hanya 3 Hari Saja, (Sorry Nabiila :v) Semuanya Beres.

Malam itu, Semalam Sebelum Masuk.

Aku teringin Begadang. Aku Ingin Kembali kepada Profesiku lagi, yaitu Menulis. Ya. Maksudnya Blog ini. Karena yang Kutulis ialah Impossible Episode, yang Mana Ku Menulis 30 Hari dalam 3 Hari. Ditambah lagi Seluruh Pembacanya tak Tahu Orang, Sifat dan Tempatnya itu Seperti apa.

Ku terus Menulis.

Pada Jam 11:30,,
Aku Sedang Membuat Denah Rumah Sepupuku, Nanda Iftikhar.
Baru Saja Setengah Denah, Ibuku Batuk Batuk Didepan. Yaa Gua Auto Panik Lah Cuy. Langsung Pura Pura Tidur lah gua. Beberapa Menit Berlalu, Ibuku tidak Juga Menghasilkan Suara. Aku Lanjut Membuat Denah.
Beberapa Detik Selanjutnya...

 Sesuatu yang Berdaster Putih Melewati Pintu. (AUTO JANTUNGAN)  Dia Balik Lagi, daan,, Sosok yang Lewat itu Lebih Kutakutkan Muncul saat Ku Begadang daripada "Sesuatu". Ia Adalah Ibuku. Dia Auto Marah dan Memerintahkan Meletakkan HP dan Tidur. Dan Akupun Tertidur.

Setelah Liburan Ini, Aku Banyak Dapat Pelajaran dan Bisa Dibilang Diriku Sendiri "Dewasa." Jadi Aku tak Perlu Beradaptasi tanpa Game.

Aku Berangkat Jam 4pm tepat, Waktu yang Tepat Untuk Datang.

Ibuku Tancap Gas. Mobil Terios Berplat Nomor B 1415 EKB itu Melaju dengan Kencang.

Setibanya disana Aku Melihat Rombongan Cahaya Makkah- Aulad yang Berangkat ke Masjid. Ingin ku Memanggilnya, Tapi aku Sadar Banyak Orang Disekelilingku. Ralat deh.

Ku Melihat Ke Arah Asrama Ikhwat, Ada Yazid dan Ibunya disana. Aku Langsung Menepuk Pundak Yazid, Menyapa dan Masuk Kedalam Asrama. Selang Beberapa Waktu, Aku Berangkat ke Masjid untuk Shalat Ashar. Kulihat Yazid dan Sepupunya, yang Ternyata Bernama Hakim.

Aku Menghela Nafas. Pasti akan Banyak Yang Berbeda disini. Teman, Suasana, Fasilitas,...

Semuanya Terasa Berbeda.

Sudahlah. Aku tak Ingin Bermenung Terlalu lama. Sawan lo ko :v. Canda, canda.

Sebelum Beberes, Aku Shalat Ashar saja dulu, Karena Rombongan Ikhwah CM. Aku Kearah Masjid, Bertanya kepada Ariq, dimana Tempat Berwudhu. Ehweladalah, Ternyata Tempat Wudhu'nya cuma ada di Asrama. Anjeng bener. Aku ditemani Ariq ke Kamar Mandi, Sambil Menunjukkan Kata Katanya, yang Mengatakan WC/Klosetnya "Aneh". Aku yang Melihatnya juga Merasa "WOW", Karena Klosetnya Terbuka Begitu Saja. "Kata Abang Abang Pakai Sarung aja Buang Hajatnya",, Lanjut Ariq. WADDAFAQ, Masa' Pake Sarung Eeknya njir, Mana nanti Resikonya Nempel Nempel di Sarung Kuning Kuningnya :v GUA KAGA MAOOO

Sementara Aku Berwudhu', Aku Dibuat Lega dengan Melihat Ruang WC Kelas 8.

Dalam Perjalanan ke Masjid, yang Pastinya tanpa ditemani Siapapun, Aku Dibuat Grogi dengan Rombongan Akhwat CM. Percaya ga Percaya, Aku Akan Shalat di Masjid yang sama tanpa Hijab (Pembatas). Shalatku Agak Terganggu dengan Mereka dibelakangku, yang Sedari tadi Meng "Ehem Ehem"in Diriku. Ditambah lagi Kedatangan Hazeq kedalam Masjid, yang Membuat Para Akhwat Manggil Manggil dia. Lambat laun Suara Hazeq Semakin Memudar. Ternyata Rasyid Memanggil manggilnya dari Luar, yang kutahu baru detik aku menulis ini.

Disaat Selesai Shalat, Akupun Segera Keluar dari Masjid yang masih Penuh Ehem Eheman dengan Buru buru. Aku tak Sadar, Aku Sangat Rugi. Itu Saat Terakhirku Melihatnya dari dekat. Detik ini Aku Masih Menyesali itu.

Saat keluar, Aku Melihat Banyak Anak CM Ikhwah lagi Bermain dengan Hazeq. Aku Segera Menuju mereka, yang Bertepatan ditengah Lapangan Bola. Aku Mengambil Sebuah Balon yang Berada di Mobil, untuk Menghibur si Hazeq.

di Perjalanan Menuju Mobil,,
Aku Melihat Orang yang Ku Sama sekali tak ingin bertemu dengannya semenjak Tes. Seorang Preman Geng Tawurannya Arkan, Rambutnya Bercat Coklat dengan Gaya jalan Khas Preman,
Facebook: David

serta Berbicara dengan Teman Ngajiku dulu, Rayhan Gusti Anugrah. Dia Orang yang Lumayan dekat denganku dulu.

Aku mengacuhkan saja, Serta Langsung Mengambil Balon itu. Alhasil, Kami Bermain Balon, Hingga Balon itu Terletuskan oleh 'Abda.

Aku Pergi Ke Asrama lagi, dimana aku ditunjukkan arah dipanku oleh bang Rendy, yang biasa dipanggil ke Selvy. Dipannya Sudah Rapi Saja.

Tibalah saatnya Pemanggilan Santri baru ke Masjid, Tanda Dimulainya Acara Pelepasan.

Aku duduk di Agak kiri Belakang Ikhwah, yang disekitarku orang Ujunggading saja.

Berbagai Materi Disampaikan Ust. Firdaus dan Seorang Bapak, aku tak tau itu siapa.

Hingga...

Sampailah disaat Peragaan Baju Jas. Dua Orang dipanggil kedepan, yang pasti Akhwatnya Salma Mutiara Irza.

Aku sih Awalnya Biasa aja ya, Tetapi Setelah Dipanas Panasin orang CM dan Ada Beberapa UGC (Ujunggading Community) Bilang "Foto Pernikahan"....

Hatiku membara.

Emosi ini tak Terbendung.



  1. Berlanjut di Episode yang Lain.






Selasa, 17 Juli 2018

PERKENALAN.

Kakek, Nenek

NP: Nama Panggilan



Alm. Eka Saputra

Aku tak Pernah Melihatnya.

Almh. Maskinah

NP: Mimih
.

Anak Anaknya (Saudara² Ibuku) (Berurutan)

Ewang Mulyana.


NP : Ewang

Aku tak mau Memperlihatkan Kondisinya yang Saat ini. dia Stroke Berat. Kurasa Hidupnya Tak Lama Lagi...

anaknya

Istri: Mimi Utamy

Chepy Indra


NP: Chepy

Dia Tak Ada di Ceritaku.
Istrinya: Cecilia

Endo Kersandona


NP: Endo

Kondisi dia Yang Sekarang Udah Ganteng ya, Dulu Mah Kaya Bocah Bencong :v

Erisriana


NP: Euis

Suaminya:

(NP) Kukus


Kurasa Dia Seorang Ibu yang Hebat.

anaknya

Mia Kemalawati


NP: Mia
Rina Kurniawati.


NP: Rina

Ridwan Kusumawardhani

Berantakan Bat ya Rambutnya :v

NP: Ridwan

(NP) Rifa




Elly Liana



Suaminya: Slamet Dwi Susanto (NP: Mamet)
anaknya

Alfian Isyaktiano



Ghusty Dwi Mahendra




Eding Sungkana


Istrinya: Mira Larasati (NP: Mira)
Ada di gambar, bagian kanan paling depan.

anaknya

Nanda Iftikhar Suryanegara



Najwa Zhafira Atmanegara



Nalendra Ramadhan Wiranegara




Edar Triatna


Istrinya: Ita Mustika

anaknya

Hedytha Sari Kusuma




Endang Lesmana


Istrinya:

Syerly Chairunnisa


anaknya

Velsya Millena Fathiya

dia yang paling depan.


Havel Anaufal Erfandhani



Vanya Shafa Kamila



Hyaiza Syifa...


Ermayana (Saputra)

anaknya

Thariq Almas Neil Authar

You Know lah :v dan Keluarga gua gausah post foto lah

Salma GHAITSA ( Bukan Mutiara yak :v) Qathrinnada



Hazeq Almas Alfayyadh


Di

Epi Hastiana

Single 30an Cuy :v


Ektris Triana



anaknya

Ratu Salwa Remona



Raul